Rangkuman Materi:
Namun, skala produksi yang terlalu besar juga dapat menyebabkan disekonomi skala. Misalnya, peningkatan skala produksi dapat menyebabkan peningkatan biaya rata-rata atau biaya per unit output yang diproduksi. Hal ini dapat terjadi baik pada tingkat internal maupun eksternal. Disekonomi skala internal dapat terjadi ketika perusahaan tumbuh terlalu besar sehingga mengalami kesulitan dalam pengelolaan dan koordinasi. Sementara itu, disekonomi skala eksternal terjadi karena pertumbuhan seluruh industri, yang dapat menyebabkan peningkatan biaya seperti upah tenaga kerja, harga bahan baku, dan biaya lingkungan. Disamping itu, skala ekonomi dan disekonomi dapat terjadi baik pada tingkat internal perusahaan maupun eksternal industri. Skala ekonomi internal terjadi ketika perusahaan individu tumbuh dan memanfaatkan keuntungan-keuntungan yang telah disebutkan.
Skala ekonomi eksternal terjadi ketika perkembangan suatu industri secara keseluruhan membawa manfaat bagi perusahaan-perusahaan di dalamnya. Contohnya adalah meningkatnya ketersediaan tenaga kerja terampil atau perbaikan infrastruktur yang mendukung efisiensi operasional. Sebaliknya, disekonomi skala eksternal dapat muncul ketika ekspansi industri menyebabkan kenaikan harga bahan baku atau memperburuk persaingan di pasar, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang skala ekonomi dan disekonomi sangat penting bagi perusahaan agar mereka dapat mengelola pertumbuhan dengan bijak serta mempertahankan profitabilitas bisnis mereka.
Contoh Kasus:
Maskapai Garuda Indonesia, pada tahun 2018,maskapai penerbangan nasional ini mengalami disekonomi skala akibat pertumbuhan yang terlalu cepat dan kurang terkelola dengan baik. Perusahaan ini menambah armada pesawat secara signifikan dan memperluas rute penerbangan, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan efisiensi operasional. Akibatnya, biaya operasional seperti perawatan pesawat, biaya tenaga kerja, dan biaya administrasi meningkat drastis. Selain itu, manajemen yang kompleks dan kurangnya koordinasi antar departemen menyebabkan inefisiensi. Pada tahun 2020, Garuda Indonesia menghadapi krisis keuangan parah dan terpaksa melakukan restrukturisasi utang.
Bisa di simpulkan dari kasus di atas adalah
Skala ekonomi : Ketika perusahaan memperluas armada pesawat dan menambah rute penerbangan, jika di kelola dengan baik, hal ini seharusnya menghasilkan efisiensi biaya melalui penggunaan pesawat yang lebih optimal, peningkatan jumlah penumpang, serta keuntungan dari harga grosir untuk bahan bakar dan perawatan.
Skala disekonomi : Perusahaan mengalami lonjakan biaya operasional akibat perawatan pesawat yang lebih banyak, peningkatan biaya tenaga kerja, serta administrasi yang semakin kompleks. Manajemen yang kurang terkoordinasi juga menyebabkan inefisiensi, sehingga bukannya mendapatkan keuntungan dari ekspansi, perusahaan justru mengalami krisis keuangan. Pada akhirnya, Garuda Indonesia harus melakukan restrukturisasi utang untuk bertahan.